Karakteristik Dan Pengembangbiakan Burung Ekek Geling

Burung Ekek Geling Jawa merupakan hewan endemik yang hanya bisa ditemui di Jawa Barat. Untuk daerah sebaran burung Ekek Geling Jawa ini adalah meliputi taman Nasional Merapi, Taman Nasional Halimun Salak, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango dan hutan kawasan Parahyangan. Habitat burung ini adalah hutan dan tepi hutan dengan ketinggian antara 500-2000 meter dpl. Ekek Geling Jawa merupakan burung langka dan merupakan burung dari keluarga Corvidae.

Burung Ekek Geling

Burung ini mempunyai ukuran tubuh sekitar 32 cm. Bulu pada tubuhnya yaitu warna hijau dan dengan strip warna hitam pada mata dan warna coklat pada sayapnya . Burung Ekek Geling Jawa ini mempunyai paruh dan kaki yang berwarna merah. Iris matanya berwarna coklat dan burung Ekek Geling Jawa ini mempunyai ekor yang pendek.Karena paruhnya yang merah, kadang burung ini pun disebut si paruh gincu.

Karakteristik Burung Ekek Geling

Berbeda dengan kerabatnya Ekek Geling kalimantan (Cissa jeffreyi), maka ekek-geling jawa memiliki paruh yang lebih panjang, keduanya pun memilik suara yang berbeda. Sebelumnya dua spesies ini dianggap sebagai spesies yang sama. Populasi burung endemis Jawa bagian barat ini kini diperkirakan kurang dari 250 individu. Ironisnya, ekek-geling Jawa justru kerap dijumpai di dalam sangkar meski sangat langka di alam. Burung ini tercatat pertama kali di Sukabumi pada 1906 dan terakhir kali di hutan sekitar Bandung pada 2006.

Burung ini mempunyai kebiasaan terbang dalam kelompok kecil dan memburu serangga di hutan. Meski sering bersuara, namun agak sulit dilihat dikarenakan warna bulunya yang tersamarkan oleh hijaunya daun. Untuk Burung Ekek Geling yang berasal dari Jawa inilah yang statusnya terancam punah, dengan populasi yang diketahui tinggal 249 ekor. Meski terancam punah, saat ini di Indonesia, Ekek Geling Jawa belum dilindungi undang-undang.

Pengembangbiakan Burung Ekek Geling

Untuk anda yang mempunyai burung Ekek Geling di rumah, anda harus benar benar bisa merawatnya. Membedakan burung jantan dengan betina Ekek Geling bisa dibilang sangat sulit, karena secara fisik memiliki kemiripan satu sama lainnya. Makanan utamanya adalah berbagai jenis serangga, kadal kecil, ular kecil, telur burung-burung kecil lainnya, dan buah-buahan. Spesies ini kadang terlihat menyendiri atau berpasangan pada musim kawin, dan termasuk burung yang menjaga teritorial dan sarangnya.

Untuk pengembangbiakan Burung Ekek Geling, baik dari Kalimantan maupun Jawa, dibutuhan kandang penangkaran yang luas (model aviary) yang didalamnya disediakan sebuah besek atau basket (mangkuk sarang) yang terbuat dari rotan untuk tempat bersarang dan bertelur. Sediakan juga beberapa bahan penyusun sarang seperti jerami kering, daun kering, serat kelapa, ijuk dan sebagainya yang disebar di bagian bawah kandang. Sebagian lagi ditebar dalam besek / keranjang rotan, karena terkadang burung betina akan bertelur dalam keranjang rotan tanpa terlebih dulu membuat sarang.

Burung betina bertelur sekitar 3-4 butir. Lama pengeraman sekitar 18 – 20 hari. Setelah menetas, piyikan biasanya diberi makan berupa ulat hongkong selama 3-4 hari oleh indukannya. Untuk makanannya anda harus menyiapkan ulat hongkong, jangan sampai kehabisan. Setelah berumur 5-6 hari, anakan bisa diberikan anak tikus yang masih merah. Berikan dengan porsi 3-4 ekor selama dua atau tiga kali sehari. Pada hari ke-11, anak Ekek Geling mulai tumbuh bulu–bulu halus. Matanya baru terbuka pada hari ke-12.

Sediakan selalu pakan hidup dalam sangkar penangkaran sampai anakan burung berumur 25 hari. Pada waktu itulah anakan bisa disapih dan kita loloh sendiri, dengan menggunakan campuran serangga dan voer basah. Ekek geling kerap digunakan sebagai burung masteran untuk burung peliharaan semacam burung murai batu, cucak hijau dan cendet, karena suara tembakannya yang keras. Meski tidak serapat cililin, suaranya cukup bagus juga jika dinyanyikan oleh burung murai batu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *